Akhir Sebuah Persahabatan
Hai, aku Elaine. Aku adalah siswi di sekolah
swasta islam yang bernama SDIT As-Sa’adah. Saat ini aku bersekolah di kelas 5,
yaitu kelas 5 Ibnu Batutah. Aku memiliki 3 orang sahabat yang diantaranya
adalah Lola,Ndari dan Narum. Bukankah yang namanya bersahabat tidak mengenal
ruang dan waktu?Aku,Lola dan Ndari tergabung di kelas 5 Ibnu Batutah sedangkan Narum dikelas 5 Ibnu Hayyan.
Tiga bulan telah berlalu, aku telah
naik ke kelas 6.Aku dan Lola ditempatkan di kelas 6 Al Khayyam, Narum dan Ndari
ditempatkan di kelas 6 Ibnu Haitsam. Pada awalnya persahabatan kami berempat
berjalan dengan baik. Hingga pada akhirnya pada suatu Try Out aku menyapanya
“Lolaaaaa” sapaku dengan riang. “...”Ia tak merespons. “Lol?” tanyaku bingung. Ia
berjalan menjauh dariku.
Mataku tak mampu terpejam dengan
segala masalah yang melandaku hari ini aku tak mampu menjernihkan pikiranku. Kunyalakan
Handphoneku dan aku memasang headset.Setelah aku memainkan beberapa lagu di
playlistku aku tertidur.
Keesokan hari, disaat pelajaran PKn
aku ‘ditakdirkan’ sekelompok dengannya.‘Gosh...Kenapa
coba?’Aku menggerutu dalam hati. Aku masih merasa tidak enak dengan peristiwa
setelah Try Out itu. Aku masih diam dan tak bisa berkata-kata. Saat ku
perhatikan wajahnya, Dari raut mukanya aku dapat membaca kekesalan yang
tersirat di wajahnya. Aku merasa aku tidak berbuat kesalahan. ‘Lola kenapa
ya?Aneh banget itu anak, orang gak salah apa-apa tiba-tiba didiemin.Gak jelas’ Gumamku
dalam hati.
Pelajaran berikutnya adalah
matematika. “Yak, Anak-anak sebelum mulai gimana kalo kita joget-joget dulu?”
Tanya Bu Agung dengan antusias. “Iya-iya buuu” Jawab teman-temanku serempak.
“Mmm..Elaine,Rizky,Tabitha ayo maju nak” Bu Agung menunjukku. “Gimana kalau
mereka kita suruh joget Keong Racun mau?” tanyanya dengan semangat. “Iyaaa
Buuu!” Teman-temanku menjawab dengan tak kalah semangat.
Aku,Rizky dan Tabitha maju dan
berjoget Keong Racun. Namun selalu saja mataku menangkap ekspresi tak suka dari
satu anak dikelas ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Lola?. “Liat deh,El sok caper
banget pake segala joget-joget keong racun,Ih caper banget deh” aku melihat Ia
berbisik kepada Faiza.
Kringgg...Kringgg...Kringgg bel pun berbunyi
dengan nyaring dan membuat semua siswa yang sudah lapar dan jenuh membatin ‘Yes!’.
Aku pun berlari ke kantin untuk mengisi perut. Aku memutuskan membeli sepotong
cireng isi dan segelas jus jeruk lalu kembali ke kelas. Setibanya dikelas aku
disambut tatapan dingin darinya. Aku memilih tidak menghiraukan.
“El,Jatoh noh bisa diem gak sih?”
Bentak Lola. “Nih,Gue ambil puas lo?” Aku sendiri kaget biasanya aku
memanggilnya kamu tapi kenapa menjadi sekasar ini. “Yaudah sih gak usah
marah-marah bisa kan?” Balasnya dengan sengit. “Yaudah sih lo juga biasa
aja.Jangan marah-marah juga”. Aku sudah tak kuat, aku keluar kelas dan
membanting pintu kelas.
Aku memutuskan untuk mengambil air
wudhu untuk mendinginkan pikiranku. Aku terdiam sejenak tak tau harus apa. “Astaghfirullah,Aku
kenapa?” Aku mulai frustasi. Bahkan hingga bel masuk berbunyi pun aku masih
berjalan gontai menuju kelas. “Astaghfirullah,Aku kenapa?”
Saat aku membuka pintu.Teman-teman
menyambutku dengan tatapan
“El-Lo-Kenapa?” dan “El-dan-Lola-Kenapa”. Aku memutuskan tak menghiraukan mereka dan berjalan menuju bangku ku.
“El-Lo-Kenapa?” dan “El-dan-Lola-Kenapa”. Aku memutuskan tak menghiraukan mereka dan berjalan menuju bangku ku.
Bel pulangpun berbunyi.Aku
membereskan semua perlengkapanku untuk kumasukkan ke dalam tas.Saat semua anak
sudah pulang aku memutuskan untuk menghampiri Ndari, Kurasa aku merindukannya.
“Ndari...”sapaku. Kulihat ia sedang
asyik menyapu kelasnya. “...”Ia tak merespons. “Apa sih El?Ngapain lu
kesini?”tanyanya dengan nada dingin dan ketus.Aku terpaku sejenak ditempatku
tanpa mampu berkata-kata. Ia tak mengacuhkanku dan melanjutkan kegiatannya. Aku
berjalan dengan lemas menuju ke bawah.
Di suatu minggu pagi aku mencoba
memecahkan semua ini, hingga terbesitlah ide. ‘Kenapa gak pinjem facebook Tika aja ya?’. Aku minta izin ke Tika untuk
membuka akun facebooknya.Disitu aku mulai menyamar menjadi Tika.
“Kak Lola”. “Iya Tik”. “Kakak lagi
marahan sama Kak El ya?”. “Iya nih”. “Emang kak El kenapa?”. “Kakak mulai gak
suka, dia mulai berubah”. “Berubah kenapa kak?”. “Dia mulai egois dan suka
boong, dan kakak gak suka itu”. “Oh begitu kak yaudah aku mau mandi yaa kak”.
Jadi ternyata dia menjadi begini
karena aku?Aku..aku..Ya Allah kenapa aku tidak menyadari ini sebelumnya?.Aku
mulai tidak fokus dengan segala hal seterusnya.
Hingga pada suatu malam Narum menelepon
“El,Lu lagi berantem sama Lola dan
Ndari kan?”. “Hmmhmm” jawabku dengan nada tak bersemangat. Aku pikir Narum sama
seperti mereka, tapi dengan segala kondisi ini dia masih tetap mau berbicara
denganku, ‘Alhamdulillah ya Allah’batinku.
“El,gimana ya gue ngomongnya?Jadi
gini gue mau ngewakilin Lola ma Ndari kalo sebenernya mereka gak benci lu
kok.Dia Cuma ya...A bit disappointed atau sedikit kecewa sama lu.”Terang Narum
ragu. “Ya, gue udah tau itu kok.Dari cara mereka memperlakukan gue itu semua
udah mencerminkan kok.” Jawabku seadanya.
“Terus
kalo lu sendiri kenapa gak ngejauhin gue?”tanyaku hati-hati. “Gue gak tau
kenapa gak bisa El..” Jawabnya lirih. “Oke,Thanks ya,tapi sebenernya apa yang
mau lu sampein?”tanyaku to the point.
“Jadi,
Lola sebenernya udah mau maafin dan si Ndari juga.Tapi untuk kita kembali dalam
suatu geng kayaknya gak bisa deh.Lola gak mau lagi El” terangnya. Tanpa ia
terangkan alasannya aku pun sudah tau. Yah oke aku bisa menerima ini semua.
“Oke, gue ngerti Na, sampein thanks for everything. Dan buat lo Makasih banyak
udah mau jadi perantara kita.Much love buat lo”Jawabku sambil menahan tangis.
Butiran kristal bening telah kujatuhkan secara
deras.Kekecewaan,kekesalan, kesedihan dan penyesalan berkumpul menjadi satu.Dan
berharap akan hal ini tak akan terjadi untuk kedua kalinya.
Aku tak tahu mereka menganggapku apa,Aku tak
peduli.Tetapi, Aku hanya ingin mereka tahu
apapun yang terjadi aku akan mendukung dan akan selalu disini untuk
mereka.

Komentar
Posting Komentar